Mualem Usulkan Referendum Aceh, Sebut Indonesia di Ambang Kehancuran

Gubernur Aceh, Muzakir Manaf. Foto/Ist

kaltengindependen.id, Banda Aceh — Setelah lama tak melontarkan pernyataan keras, Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA) sekaligus Ketua Dewan Pimpinan Aceh Partai Aceh, Muzakir Manaf atau Mualem, kembali membuat kehebohan. Ia secara terbuka mengusulkan agar Aceh menempuh jalan referendum, mengikuti jejak Timor Timur yang memisahkan diri dari Indonesia.

Alhamdulillah, kita melihat hari ini Indonesia sudah tak jelas soal keadilan dan demokrasi. Negara ini di ambang kehancuran dari berbagai sisi,” kata Mualem dalam sebuah forum di Banda Aceh, disambut tepuk tangan dan yel-yel pendukungnya.

Menurut Mualem, wacana referendum bukan muncul secara tiba-tiba. Ia mengklaim telah melakukan kajian dan evaluasi internal terhadap kondisi Aceh dan Indonesia. Dari hasil refleksi itu, Mualem menilai Aceh perlu menentukan arah masa depannya sendiri.

Sebuah bangsa itu punya rakyat, bahasa, dan wilayah. Dengan kerendahan hati, supaya juga terdengar di Jakarta, inilah hasrat rakyat dan bangsa Aceh untuk berdiri di atas kaki sendiri,” ujarnya.

Mualem juga melontarkan pandangan pesimistis terhadap masa depan Indonesia. Ia meyakini Indonesia dalam waktu dekat berpotensi dikuasai pihak asing. “Daripada kita dijajah orang lain, lebih baik Aceh berdiri sendiri. Kalau Timor Timur bisa, kenapa Aceh tidak,” kata dia.

Pernyataan tersebut disampaikan di hadapan sejumlah pejabat, di antaranya Pelaksana Tugas Gubernur Aceh, Pangdam Iskandar Muda, Kapolda Aceh, Kajati Aceh, serta pimpinan lembaga peradilan dan akademisi yang hadir mewakili institusinya. Sejumlah bupati dan wali kota dari Partai Aceh serta anggota DPRA juga tampak di lokasi.

Ia bahkan mengutip pandangan sejumlah pengamat luar negeri dari Australia, Jepang, Malaysia, hingga negara-negara Eropa yang disebutnya menilai Indonesia “tak lagi bisa diselamatkan”. “Ini seperti nasib beberapa negara di Afrika. Persoalan bangsa ini semakin menumpuk,” ujar Mualem.

Usai acara, pernyataan Mualem menjadi perbincangan hangat di kalangan mantan kombatan GAM dan kader Partai Aceh. Sebagian besar menyatakan dukungan terhadap gagasan referendum tersebut.

“Tidak mungkin lagi bersama Indonesia, selalu ditipu,” kata Ismail, mantan kombatan GAM dari wilayah Aceh Besar, menggunakan bahasa Aceh.

Pernyataan Mualem ini berpotensi memantik kembali diskursus lama soal hubungan Aceh dan pemerintah pusat—sekaligus menguji respons Jakarta terhadap isu sensitif yang selama ini dijaga ketat pasca perdamaian Helsinki. (*/red3)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup