Nasib Kilang Minyak Pertamina di Venezuela Pasca Invasi AS

kaltengindependen.id, Jakarta — PT Pertamina (Persero) tercatat memiliki aset minyak dan gas bumi di Venezuela, negara yang kembali menjadi perhatian dunia setelah Amerika Serikat menyerang Caracas dan menangkap Presiden Nicolas Maduro. Aset tersebut dikelola melalui perusahaan Maurel & Prom (M&P), yang mayoritas sahamnya—sebesar 71,09 persen—dimiliki oleh PT Pertamina Internasional Eksplorasi dan Produksi (PIEP).
Berdasarkan keterangan resmi PIEP, M&P mengelola sejumlah aset migas strategis di Venezuela. Salah satunya berada di Petroregional (Urdaneta West), dengan kepemilikan saham 50 persen dan tingkat produksi sekitar 40 persen. Angka tersebut setara dengan 32 persen secara neto bagi M&P. Selain itu, M&P juga memiliki kepentingan di Lagopetrol (Blok 70/80) melalui Integra, dengan porsi kepemilikan 10 persen dan kontribusi produksi sekitar 2,635 persen secara neto.
Manajer Relation PIEP, Dhaneswari Retnowardhani, memastikan bahwa hingga saat ini operasional ladang minyak yang melibatkan PIEP di Venezuela masih berjalan normal.
“Aset dan kegiatan produksi kami tidak terdampak langsung oleh serangan militer Amerika Serikat,” kata nya.
Dhaneswari menambahkan, perusahaan tetap melakukan pemantauan situasi secara ketat dan berkoordinasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Caracas untuk menjamin keamanan aset serta personel.
Akuisisi saham M&P oleh PIEP dilakukan secara bertahap sejak awal 2017. Pada 25 Januari 2017, PIEP mengakuisisi 24,53 persen saham eks-Pacifico di M&P. Kepemilikan itu meningkat menjadi 64,46 persen melalui tender offer pada 1 Februari 2017, dan kembali bertambah hingga 72,65 persen pada 22 Februari 2017.
Namun, pada Desember 2021, kepemilikan PIEP terdilusi menjadi 71,09 persen setelah pembayaran Liquidity Free Shares milik pekerja M&P serta percepatan pelunasan royalti Rockover melalui penerbitan saham baru.
Hingga Desember 2024, aset Pertamina melalui Petroregional del Lago—perusahaan campuran dengan rata-rata produksi sekitar 6 ribu barel per hari—masih tercatat berada di bawah sanksi Amerika Serikat. Kondisi ini membuat pengelolaan aset migas di Venezuela menjadi tantangan tersendiri bagi perusahaan-perusahaan asing, termasuk Pertamina.
Situasi Venezuela semakin kompleks setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan komitmennya membuka kembali investasi energi di negara tersebut.
“Perusahaan-perusahaan minyak dan gas Amerika Serikat akan masuk untuk mengucurkan investasi miliaran dolar dan memperbaiki infrastruktur minyak yang rusak parah,” ujar Trump dalam konferensi pers pasca-invasi.
Saat ini Venezuela hanya memproduksi sekitar 800 ribu barel minyak per hari, kurang dari satu persen produksi global. Namun negara tersebut menyimpan cadangan minyak terbukti sebesar 303,22 miliar barel, hampir seperlima dari total cadangan minyak dunia. Potensi besar inilah yang membuat Venezuela tetap menjadi rebutan di tengah ketegangan geopolitik.
Di dalam negeri, Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto mengakui bahwa invasi AS berdampak pada perjanjian kerja sama migas antara Indonesia dan Venezuela. MoU yang diteken pada 2024 mencakup kerja sama hulu migas, penerapan enhanced oil recovery, pengembangan teknologi ramah lingkungan, hingga penangkapan dan penyimpanan karbon.
Dengan payung kerja sama tersebut, Pertamina melalui PIEP diharapkan dapat menjajaki peluang akuisisi blok-blok migas baru di Venezuela. Langkah ini sekaligus memperkuat eksistensi Pertamina di pasar internasional, yang saat ini telah memiliki aset hulu migas di 11 negara, mulai dari Aljazair hingga Venezuela. (*)














